Friday, December 08, 2006

Stagnasi

Stagnasi.Tamat.

Sunday, June 25, 2006

Kwatrin tentang Hujan

/1/

April menggigil
kau dengar daun-daun tersentuh
embun yang berselisih dengan terik;
siapa paling berkuasa atas cuaca

/2/

Kaupun bertanya
apa yang istimewa dari hujan ini kali.
Memang seperti ada yang salah pada april:
nyanyi hujan yang pasti tak sunyi lagi

Keadilan

Saya suka naik kereta api tetapi tidak di Indonesia. Maka setiap kali pulang pergi Jakarta Bandung, saya lebih senang mencuci mata sepanjang perjalanan lewat jendela bis. Tetapi alangkah menyebalkan karena tiap kali saya naik bis PRIMAJASA,seringkali banyak mereka yang BERSERAGAM HIJAU juga 'memanfaatkan' jasa angkutan ini. Saya yang SIPIL membayar sesuai harga yang tertera di karcis sebesar 40.000 rupiah sedangkan mereka yang BERSERAGAM HIJAU itu hanya membayar 15.000 rupiah.Keadilan?Tai kucing keadilan di Indonesia!

Yang Kerdil Yang Terdidik

Demi mutu pendidikan Indonesia KATANYA maka tak mengapalah ada yang bunuh diri. Toh secara statistik banyak yang lulus. Anggap saja yang bunuh diri juga yang berniat membakar sekolah, yang depresi, yang tak dapat masuk kuliah itu sampling error. Hal yang jamak dalam rangka membangun kualitas manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang kerdil yang terdidik. Kata siapa itu sebuah KETIDAKADILAN? Ketidakadilan itu adalah mereka yang miskin dapat bersekolah. Ketidakadilan itu adalah mereka yang punya otak atau berprestasi atau juara RT,RW,kelurahan,kecamatan,kabupaten,propinsi,nasional,internasional dihargai.

Friday, March 24, 2006

Yang Paling Saya Sukai

Yang paling saya sukai adalah bunyi hujan jatuh
saat subuh
dan deru aspal tak ubahnya tubuh tak tersentuh.
Yang paling saya sukai adalah bau tanah setelah hujan
maka meluruhlah segala lupa dalam kalam.
yang paling saya sukai adalah sunyi
dari segala yang bermula

Wednesday, March 22, 2006

Di Dalam Keranda

Di dalam keranda
mereka usung lembayung
sambil bersenandung, ”Kami tak kenal surga,
hanyalah hujan
dari harum kamboja”, lalu berarak
ke kota: langit dibubuhi timbal
seperti dadih
menebal dan mega-mega terpasung
dalam taman-taman sunyi

Oh, hati yang kering...

Anak-anak cuma bersimpuh
memanjat doa pada televisi,
komputer dan video game serta dalam kerut-
kerut waktu yang menua

Duh, Gusti yang hening...

“Kami tak kenal surga
selain merdeka
seperti kau melahirkan
ketelanjangan”.

Saturday, March 11, 2006

Barangkali

Bakar! Bakar! Bakar!

Dingin terlampau lunglai
menganga
di terik revolusi dalam almanak sejarah

Bunuh! Bunuh! Bunuh!

Doa terlalu parau
mengigau
atas nama keadilan

Wednesday, March 08, 2006

Siapa yang Bisa

Siapa yang bisa menduga
kematian?
Tak juga reranting
yang bergegas meranggas
melawan musim
atau unggas-unggas
yang melintas
diatas kastil pasir
yang tersaput buih
ketika senja sebentar lagi
pupus
dan hangus

Thursday, March 02, 2006

Coitus

Hal-hal yang sangat umum terjadi pada resepsi di Indonesia:

1. Dalam undangan tertulis embel-embel gelar kedua mempelai (Apa hubungannya gelar dengan sah atau tidaknya perkawinan?Gelar bukannya buat melamar pekerjaan?Hahaha...Undangan yang aneh)

2. Tidak menerima hadiah kecuali uang (Doa kalah dahsyat dengan uang ck ck ck...Minta kok maksa hahaha...)

3. Betapa sulit hanya untuk bersalaman atau berfoto dengan kedua mempelai (Terlalu banyak protokoler.Biasanya kalau bapaknya pejabat atau punya relasi pejabat, pasti kroni-kroninya dahulu yang bersalaman.Tamu-tamu lain tidaklah penting didahulukan.Harusnya siapa yang datang dulu,bersalaman terlebih dahulu untuk menyelamati dan memberkati.Budaya yang aneh...)

4. Tamu-tamu undangan lebih mementingkan hidangan daripada kedua mempelai (Pertanyaan yang umum diajukan:"Ada kambing gulingnya nggak?")

5.Tempat resepsi biasanya berupa gedung pemerintahan atau gedung megah yang terkesan ingin menunjukkan identitas pekerjaan orangtua (baca=ayah) dan atau prestise.(Om...om...gedung pemerintahan bukannya buat ngantor?Ah lo sirik aja ki,bilang aja kaga mampu buat nikah di gedung mewah hahahaha...)

6. Ajang reuni (Selain makanan,bertemu dengan kawan-kawan lama adalah lebih penting dari kedua mempelai)

Untuk nomor-nomor selanjutnya harap tambahkan sendiri

Saturday, February 18, 2006

Yang Paling Menyedihkan

Yang paling menyedihkan
adalah menjadi manusia
dibodohi dan dimiskinkan
di Indonesia

Thursday, February 09, 2006

Pak Slamet

Sambil duduk menunggu giliran di ruang tunggu yang seadanya, saya memaki diri sendiri: Terkutuk kau yang kerap tak puas atas segala sesuatu. Coba lihat mereka yang hidup dalam kegelapan. Meraba-raba dalam berjalan. Mereka (barangkali) tak pernah melihat bagaimana daun-daun gugur diterbangkan angin, senja yang menorehkan jingga pada cakrawala atau lampu-lampu kota yang berkilatan saat gelap bertandang. Seharusnya kau bersyukur!
Triplek sebagai sekat memisahkan setiap kamar, dengan tiap kamar terbagi lagi menjadi dua ruang. Aroma minyak telon meruap dari dalam kamar atau pengunjung yang telah terbebas dari kepenatan. Kamar-kamar sempit itu hanya terdiri satu tempat tidur dengan bantal guling serta kasur kapuk berseprai putih. Di seprai terlihat sisa-sisa noda minyak telon. Apakah mereka tak mengganti seprai tiap kali habis dipakai?
Tak ada raut kelelahan terpancar. Padahal sudah pukul lima sore dan jam tutup masih panjang, sekitar jam duabelas atau satu malam. Usianya 75 tahun dengan otot-otot wajah yang mengendur. Tapi kedua belah tangannya masih kencang dan kekar. Sebelum mulai, ia menunjukkan jam tangannya yang tak tertutup kaca sambil berkata,”Kita mulai jam lima lebih sepuluh menit. Hanya 1 jam? (Saya mengiyakan) Berarti kita selesai jam enam lewat sepuluh”.
Sambil ia mulai menyentuh otot-otot saya di bagian kaki, dialog-dialog standar yang umumnya terjadi pada dua orang yang tak saling kenal dan dipertemukan pada ruang waktupun mengalir. Nama, tempat tinggal, pekerjaan, suku dan bla…bla…bla…
Begitupun seorang kawan di kamar sebelah. Ia masuk beberapa menit setelah saya. Cuma bedanya, si buta pemijatnya masih muda. Kawan saya itu mulai belakangan tapi selesai duluan. Komentarnya, “Perhatikan itu, anak muda yang nakal. Kami dibayar sama. Tapi ia tak berdisiplin waktu. Nanti bilang ke teman kamu tadi itu belum 1 jam. Kita saja yang mulai terlebih dulu belum selesai”. Saya mengiyakan.
Setelah otot-otot di tubuh in mengendur, ia kembali menunjukkan jam tangannya yang jarum-jarumnya bisa ia raba itu sambil berkata, “Coba lihat…jam enam lewat sepuluh. Tepat 1 jam kan? Baru kita bisa berhenti. Tak lupa mengingatkan jangan sampai ada barang yang tertinggal.
Namanya Pak Slamet. Dari tarif Rp.18.000/jam yang masuk ke kantongnya adalah Rp.11.500 (dengan tepat waktu 1 jam). Sama dengan si anak muda buta yang tadi memijat kawan saya yang kurang dari 1 jam.

Monday, February 06, 2006


I Don't See My Name On TV Posted by Picasa


The Hand That... Posted by Picasa


Hypocrite Posted by Picasa


The Feet That [III} Posted by Picasa

Sunday, January 22, 2006

The Animal In You

Mole
Genera and species: Castor canadensis
Collective Term: A business of beavers

Description
It's easy to recognize the mole personality. For one thing, they have a pasty complexion and are usually seen in late night coffee shop, jazz bars, or underground clubs. To avoid drawing attention to themselves, they favor dark clothing and sunglasses and are the first people to volunteer for the graveyard shift.

The mole is a smallish individual with far more power than its flaccid body suggests, although its strength is more mental than physical. With its ability to focus on the job at hand, there is no situation from which a mole cannot extricate itself.

There's something compelling about the mole personality, and in the early sixties it was quite fashionable to be a mole in the form of a creative and philosophical beatnik -- expressing angst through music and poetry. Bob Dylan and John Lennon carried the mole standard into the seventies, but the fashion largely died and moles were forced back underground.

Moles are restless and although constantly engaged in activity, they never seem to get anything done and despite their drab appearance, they have extremely sharp minds and are excellent problem solvers. As reflected in their determined burrowing through difficult terrain, moles prefer solutions with straight lines rather than having to go around problems. When confronted with difficult issues, they never give up -- hacking away with dogged determination until the answer is found. This attribute makes them perfect for jobs in engineering, accounting or diagnostic work.

Sex is not the most important thing in the mole's life but if there is one animal personality that can push all the right buttons; it would be its soul mate, the bat. (like Yoko Ono) The bat and the mole share a love for dark intimacy and when these two get together, black magic is bound to happen.


Careers and Hobbies
Engineering Songwriting
Grave digger Researching

Music Poetry
Coffeshops Designing

Famous Moles
Bob Dylan, John Lennon.

Source: http://www.animalinyou.com/survey.asp

Friday, January 20, 2006

Seorang Anak yang Meringkuk di Trotoar

Sore tadi, saya menemani teman ke Gramedia untuk mencari kartu ulang tahun untuk ibundanya. Sebelum memasuki pelataran parkir, saya lihat seorang anak meringkuk di trotoar: wajah legam dan pakaian yang kumal oleh debu jalan dan karbon kendaraan. Kaleng rombeng tempat uang ia taruh di dekat kepalanya. Yang ada di benak saya yang terkutuk ini adalah: Sayang saya tak punya kamera, padahal bagus dijadikan obyek. Pertanyaan saya kemudian adalah apakah yang terlintas di benak setiap orang yang lalu lalang melihat pemandangan itu?

Wednesday, January 04, 2006

IS MUSIC POLITICAL?

Musik bukan hanya nada. Ia adalah sebentuk propaganda yang berbahaya: bukan hanya bunyi mendayu-dayu atau hingar-bingar yang menjadi kepuasan hati. Sebentuk perlawanan terhadap kekuasaan yang lalim sehingga alih-alih sensor negara pun bermain sebagai penghambat kreativitas. Lirik yang dianggap "mengganggu stabilitas" atau "meracuni masyarakat" dilarang untuk dinikmati telinga. Musik memang tak langsung menciptakan pergerakan, revolusi atau perubahan ekonomi tapi telah menjadi bagian keseharian untuk menyampaikan pesan bahwa dunia tak melulu cinta: patah hati, jatuh cinta dan antek-antek lainnya.
Mendengarkan musik negeri sendiri saat ini, saya hanya berandai-andai: kapankah telinga ini disuguhkan alunan dan nada serta lirik yang "unforgettable" dalam berbagai pilihan genre. Meskipun selera memang sulit diperdebatkan dan musik telah menjadi komposisi tiran industri tapi apakah sebagian besar musisi negeri ini (major label) akan terus menciptakan musik "mainstream" dengan lirik "cinta picisan"?
IS MUSIC POLITICAL?

RADEN MAS SOELARKO

Kehilangan adalah sebuah kepastian. Ia telah melanjutkan perjalanan ke sebuah dunia yang damai pada usia 88 tahun. Waktu menandainya pukul 13.20 WIB, menamainya Sabtu dan mencatatnya pada 12 Maret 2005. Beliau adalah (alm) Prof. Dr. Brigjen Raden Mas Soelarko Soehatmoko.
(alm) R. M. Soelarko mulai “mendiagnosa” dunia sejak dilahirkan pada 20 Desember 1915 di Baturetno, sebuah kota kecil 30 km arah selatan Wonogiri. Ia ibarat bunglon: seorang dokter gigi, pendidik, fotografer profesional, pelukis, militer dan tentu saja bapak atau kakek bagi keluarganya. Ia pun ibarat lumut kerak - organisme perintis -: Didirikannya PDGI (Persatuan Dokter Gigi Seluruh Indonesia) dan FKG Unpad - bersama-sama (alm) drg. R. G. Soeria Soemantri -, Pelangi (Pelukis Angkatan Muda Indonesia) dan SIM (Seniman Indonesia Muda) serta FPSI (Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia).
Kecintaannya untuk mendidik dibuktikan dengan semangat untuk tetap mengajar pada detik-detik terakhirnya: ia khawatir anak didiknya akan terlantar, selain itu kemampuan mengajarnya setara dengan 5 orang dosen.
Keinginan terakhir yang belum terwujud adalah sebuah buku autobiografinya. Keinginan terakhir (alm) R. M. Soelarko barangkali bisa ditafsirkan sebagai satu pertanda bahwa ia barangkali menyadari akan kefanaan diri, tapi ia pun barangkali yakin bahwa semangat dan pengalaman perlu ditularkan kepada setiap benih baru.
(alm) Soelarko adalah seorang tokoh besar. Ia juga pahlawan: tanpa perjuangannya, tak ada FKG Unpad. Ia ibarat mentari yang menjadi inspirasi. Dan inspirasi tersebut salah satunya adalah barangkali kita tak harus selalu menjadi seseorang yang ”besar” untuk dikenang, tapi cukup menjadi seseorang yang ”kecil” atau biasa saja dengan perbuatan yang ”besar”.
Saya hanyalah seseorang yang kecil yang hanya melakukan perbuatan kecil pula. Tapi saya yakin Anda adalah seseorang yang sanggup melakukan perbuatan-perbuatan ”besar”. Barangkali dengan sebuah kecerdasan emosional. Sebuah toleransi. Sebuah penafsiran atau pemahaman bahwa kita satu keluarga: terkadang bertengkar, berdebat, tertawa ataupun larut dalam kesedihan. Kitapun menyadari bahwa ”rumah” kita minim ”perabotan”. Semua ”anak” ingin segera keluar ”rumah”- menjadi mandiri, menjadi ”sesuatu” yang telah dibayar dengan SPP, SKS, waktu, pikiran jua tenaga. Tapi hal itu tak harus membuat kita saling menjegal atau bersaing dengan cara-cara kotor: ”mencuri kursi” atau tak bisa antri seperti bebek. Tak mengapa saya hanyalah seseorang yang kecil tapi saya tak ingin kalah hanya oleh seekor bebek. (HBM)

Sunday, January 01, 2006

Saya Ingin Dieksploitasi

Saya ingin dieksploitasi.Pasti menyenangkan.Layaknya selebritis,politisi,pengkhotbah atau mereka yang menjadi bintang reality show. Karena hidup mereka itu penting dan bisa menjadi contoh.Bisa ngomong sedikit bahasa Inggris, sudah dianggap keren kok.Jaman sekarang, privasi sudah tak penting lagi.Ruang privasi menjadi ruang publik itu yang tengah trend dan menjadi santapan sehari-hari.Buat apa punya prinsip hidup,moralitas atau menjadi orang berbudi pekerti.Toh keyakinan hanya sebatas obyek media, apalagi yang berbau mistis.Permintaan pasar itu yang terpenting. Kesedihan,penderitaan apalagi kemisikinan itu tidak ada,hanya omong kosong.Hidup ini kan seperti opera sabun atau sinetron. Air mata orang lain pasti laku dijual. Kita akan tersenyum dan merasa lebih baik. Tak perlulah bersyukur. Tak perlu bersedih melihat banyak gembel dan pengemis di jalan. Tak perlu pusing melihat orang lain kekurangan makan. Tak perlu heran melihat mereka yang tergusur rumahnya. Yang jelas, tak perlu memikirkan hidup orang lain.Yang harus dipikirkan adalah bagaimanan hidup kita ini dieksploitasi dan bisa dinikmati seperti opera sabun atau sinetron.

Tuesday, December 27, 2005

Iklan Baris

Anda ingin masuk surga?
Tak butuh iman, ritual ataupun kepribadian sempurna
Belilah produk-produk khotbah dan tips instan kami
Tersedia dalam berbagai jenis paket yang terjangkau
Segera kunjungi website kami di www.carainstanmasuksurga.com


Kampung Naga Posted by Picasa


Self portrait Posted by Picasa


Wejustcantgiveourshadow Posted by Picasa


Jangan tinggalkan aku meranggas sendiri Posted by Picasa

Kawah yang selalu kurindu Posted by Picasa

Embun pada jendela kamar Posted by Picasa

Friday, December 23, 2005

Sekolah

Di ruang kelas
kebebasan adalah teror
ketidaktahuan

Usia Cinta

/1/
Cinta itu api
perlahan merambat
percikannya hangat
membara
jadi ( abu ) rindu

/2/
air adalah cinta
mengalir
seringkali hanyut
tenggelam kadang
menghempas kerontang musim
pada embun : malam
pada kabut erang

/3/
sebut saja idiopatik
jikalau muasal tidak terduga, mengada begitu saja
gejala yang unik
dan pelik:
ada gradasi,
sedenyut sensasi
gelisah zarah…

/4/
sebuah riwayat singkat
kelainan :
abnormal ataukah tidak
keterkaitan dan ikatan yang erat,
runut,
susut dalam istilah
kadang menjadi tanda
tanya :
bagaimana bertutur pada waktu
tentang cinta

/5/
engkau mungkin menyangka
ini sajak melankoli : sajak cinta
atau sejenisnya
dua orang, lelaki dan perempuan, kasmaran
seolah hormon membius
bahwa malam belum larut
dalam kabut
kemudian mengembun
dalam benak
bahwa kesadaran mencinta
itu mentari :
sesuatu yang butuh toleransi.
teriknya bisa menyengat
dan sengatnya mampu membakar
di kulit kisut
dua orang, perempuan dan laki-laki, kasmaran
berbincang tentang nostalgia
tapi sekali lagi
ini bukan sajak melankoli
hanya sebuah memori
ketika malam datang lagi
menghembus dingin pada kulit keriput

Saturday, December 10, 2005

Aku Merindukanmu

Aku merindukanmu kekasih
seperti burungburung bermigrasi
melintas musim
mengepakkan sepi
pada awan yang berarak
di cakrawala hati

Aku merindukanmu kekasih
seperti hujan jatuh senja hari
menggenang sunyi
menjejakkan pelangi
pada cuaca yang tak reda
di kerentaan waktu

Tentang Kerinduan (2)

Jangan tinggalkan
kumeranggas sendiri
pada musim
yang memamah hati

Thursday, December 08, 2005

Ia Berdalih Surga

Ia berdalih surga
dengan 72 bidadari
dalam pelukan:
"Biarkan aku mati
dalam keyakinan".

Lalu dirakitnya iman
yang instan
dalam sebentuk taktiktok
yang meleburkan dirinya
dan melelehkan langit
dalam warna kirmizi

Kemudian cuaca, di balik cakrawala,
hanya mencibir (atau barangkali ia telah lupa)
bahwa Tuhan
telah mati.

Tentang Keadilan

Ceritakan padaku tentang keadilan, kawan.

Keadilan adalah tanah yang dicangkul
oleh betonbeton dan aspal
serta capingmu
yang tak lagi menghalangi terik
tapi sebatas intrik
dalam sebuah ruang ber-ac.

Monday, December 05, 2005

Selepas Mengutuki Televisi

Selepas mengutuki televisi
kaupun galau,
"Siapakah kan kekal
di surga itu sesungguhnya?"

meski matahari telah menerbitkan kenyataan
kenyataan bahwa pengatasnamaan
keyakinan; naskah yang tak pernah rampung
direvisi itu, hanya mencatat geram
dan serapah pada darah
pada kelopak mata yang enggan memicing.

Tapi siapapun mahfum
kebenaran adalah kata sepakat
yang selalu gagal untuk diamini

hingga ajal menuntun
ke sebuah kalimat gaib.

Di negeri itu
lafalMu memang telah lama dihafalkan
kedalam sebentuk iman

dan bunyi ledakan.

Selepas mengutuki televisi
kau tak peduli
siapakah yang sebenarnya benar.

Kau hanya membayangkan
apa yang kan ditanyakan
anakanak itu
tiap kali terdengar
bunyi ledakan

Saturday, November 05, 2005

Tentang Kerinduan

Adakah rindu, kekasih,

seperti musim

yang menanggalkan hujan

pada kaca jendela?




Lalu jemarimu memahat

kata pada embun

sambil menggerutu,

"Waktu memang sial dan kurangaajar".

Thursday, September 29, 2005

Ode Dua Hati

                                                                                          Untuk CLM


Dihatiku tumbuh hutanhutan aksara

huma bagi beribu belukar asmara

serta kanopi dari lepuh terik rindu


Dihatimu mendidih kawahkawah sunyi

hara bagi lebat benih hati

dan ruap aroma yang senantiasa menyisakan bahagia


Sunday, September 18, 2005

Laut yang t'lah tenang
selepas gemuruh semalam

Engkau pun tahu,cintaku,
waktu memang layaknya pencuri

Thursday, August 18, 2005

Dan kaupun menggerutu,
"Apakah merdeka sesungguhnya?"

Saturday, July 30, 2005

Tentang Seorang Anak yang Mati

Di dalam gerobak kotor

di sela-sela bau kardus

kutitipkan jasad anakku

pada angin, pada kuku nasib

yang mengais sampah peradaban




Bapak yang menggendong mayat anaknya

berkemas menuju hujan

menuju cakrawala yang semakin asing


Kemudian kututup wajahnya dengan kaus putih

kubalut tubuhnya dengan sarung

kugendong dengan kaki  terjuntai

ketika terik melarik kenyataan

bahwa kematian tak mengharap pengertian

pun tak lagi sederhana




Memang sungguh menakjubkan

republik yang mengaku beriman

pada Yang Kasih:

rumah sakit tak lebih

sebuah birokrasi yang terlambat

menangani muntaber

seperti dering yang tak kunjung diangkat

dan melahirkan keresahan


Ke Buitenzorg, ke kota dimana kaum kita bersatu,

kau kan kuantar

kembali ke asal, Nak. Ke tanah lalu langit

menitis sulur-sulur cinta.

Biarlah, kita tak butuh ambulans,

sirene  hanya kan  menambah terik

menjadi begitu menyebalkan




Dan memang demikian

di jaman seperti ini, apalagi di republik hipokrisi,

kamuflase adalah propaganda

dimana politisi cuma tercengang

ibarat seringai si kecil ngompol di pangkuan


hujan memang tak mendelik,

saat derak kereta mengangkut kami,

layaknya penumpang

pada apa yang seharusnya

tak membutuhkan pertanyaan




Sementara kita terlalu curiga.Tak ada cemas.

Pun tak lagi ada yang mulia di jaman milenia

selain uang dan sebentuk dosa.


Saya hanya seorang pemulung

tak ada yang dapat saya lakukan selain bermimpi
<

Rambut Ibu

Rambut ibu yang memutih
mengingatkan akan buih
yang pasti menepi
pada pantai
dan meninggalkan jejak
pada bulir pasir
dimana kau hanya memandang
sepanjang tepian
dan tak kuasa menghitungnya

Tuesday, July 12, 2005

Aku senantiasa menanti
hingga satu masa
benderang datang dari barat
lagi penyesalan tak berarti

Saturday, July 02, 2005

Tak Ada Kembang Lagi

"...Karena Bandung bukan Paris,” ia bergumam,

“...Dan Cikapundung adalah Seine tanpa Eiffel

dengan riak menggumpal seakan

bulir salju hitam gugur

pada kanal-kanal kering dan busuk”.


Tak ada kembang lagi

Sebuah Kartu Pos dari Halaman Sebuah Textbook

Diantara halaman textbook kutemukan
kartu pos bergambar boneka
anjing mungil berbulu putih dengan lidah
terjulur dan pita pada leher serta kedua telinga, sebagai pembatas.

Tentu saja kartu pos itu, dari seseorang untuk seseorang,
dengan pesan yang begini bunyinya:

Februari 5th 1972
Dear Dien,
Many happy return of
the day.
I wish you nothing
but happiness and
success
Yours sincerely
Dederuk.

Tuhan, apa lagi selain harapan tulus
untuk kebahagiaan
pada akhirnya?

Pada akhirnya
kenangan sentimentil
kerap terlupakan
hingga kembali dipertanyakan

Mbah

                                                                                                                         Untuk Wiryameja

Apa rasanya menua
Mbah ?

Jarak tertatih, sepertinya,
dan mentari tanggalkan jejak
pada kisut kulit
entah kali keberapa

Sementara tanah terus basah
saat senja merintih
rintik menyisakan
pucuk kematian

Apa rasanya menua
Mbah ?

Kain batik
yang membalut
kerutkerut itu
membentangkan getir
atau sepi
atau rapuh
atau sendiri


Dan sepanjang kampung
orangorang bertandang
untuk menyaksikan
senja merintih
rintik
pada kain batik


Mantra

Semenjak bisik cinta menggeliat dari rahim pernyataan
kata-kata terlunta
entah berapa lama
( Barangkali senja mengutuknya
menjelma semacam lembayung
atau serupa bayang-bayang )

seiring desis angin memuntahkan dusta
pada mulut orang-orang yang busuk baunya
dan telinga yang dirasuki desas-desus:
"Siapa berkhianat ?"
( kendatipun senja menjadi legenda
dan para pengembara cinta memburunya
tiada jera )

Thursday, June 30, 2005

Dalam Hening Engkau Datang

Engkaukah itu

mengetuk pintu saat
hening memuncak

Hujan Bulan Juni

/1/
Hujan senja bulan juni

semakin alpa
dengan perasaan
/2/
Hujan subuh bulan Juni

jatuh jauh

di padang-padang hati:


menitis sendu yang tak kunjung rindu

meluap aksara pada lidah yang tak kunjung fasih


Hujan subuh bulan Juni

jatuh jauh

sesaat mentari tersisih


adakah kau dengar rintik, kekasih,

memantul pada embun di luar jendela

pada cinta yang bening


pada hujan subuh bulan Juni

jatuh jauh mengelabui waktu




Saturday, June 25, 2005

Untuk Eko

Aku ingin gantung diri.
Aku malu
belum bayar uang sekolah

Wednesday, June 15, 2005

Mega Valentine,Darwis Triadi,Zayani Shallaita,Her Basuki Margono [Foto oleh Alonso] Posted by Hello

Friday, June 10, 2005

Favorite Poems

Loving is so short
Forgetting is so long

- Pablo Neruda -

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

- Sapardi Djoko Damono -

SEPI

dua jejak bulan yang pergi

(1979)
-Medy Loekito-

Quotation

Gandhi:

First they ignore you,
then they laugh at you,
then they fight you,
then you win.